Jumat, 28 Mei 2010

METEOR


Meteor
 
A meteor is a bright streak of light that appears briefly in the sky. Observers often call meteors shooting stars or falling stars because they look like stars falling from the sky. People sometimes call the brightest meteors fireballs. A meteor appears when a particle or chunk of metallic or stony matter called a meteoroid enters the earth's atmosphere from outer space. Air friction heats the meteoroid so that it glows and creates a shining trail of gases and melted meteoroid particles. The gases include vaporized meteoroid material and atmospheric gases that heat up when the meteoroid passes through the atmosphere. Most meteors glow for about a second.
Most meteoroids disintegrate before reaching the earth. But some leave a trail that lasts several minutes. Meteoroids that reach the earth are called meteorites.
Millions of meteors occur in the earth's atmosphere every day. Most meteoroids that cause meteors are about the size of a pebble. They become visible between about 40 and 75 miles (65 and 120 kilometers) above the earth. They disintegrate at altitudes of 30 to 60 miles (50 to 95 kilometers).
Meteoroids travel around the sun in a variety of orbits and at various velocities. The fastest ones move at about 26 miles per second (42 kilometers per second). The earth travels at about 18 miles per second (29 kilometers per second). Thus, when meteoroids meet the earth's atmosphere head-on, the combined speed may reach about 44 miles per second (71 kilometers per second).
Meteor showers
The earth meets a number of streams (trails) or swarms (clusters) of tiny meteoroids at certain times every year. At such times, the sky seems filled with a shower of sparks. Streams and swarms have orbits like those of comets and are believed to be fragments of comets.
The most brilliant meteor shower known took place on Nov. 12-13, 1833. It was one of the Leonid showers, which occur every November and seem to come from the direction of the constellation Leo. 

Meteorites
There are three kinds of meteorites, stony, iron, and stony-iron. Stony meteorites consist of minerals rich in silicon and oxygen, with smaller amounts of iron, magnesium, and other elements. One group of stony meteorites, called chondrites, are pieces of the same material from which the planets formed. Another group of stony meteorites, the achondrites, were once part of a parent body, such as an asteroid, that was large enough to have melted and separated into an iron-rich core and a stony crust. Achondrites come from the outer crust; stony-iron meteorites, from the inner crust; and iron meteorites, from the metallic core. Iron meteorites consist mostly of iron and nickel. Stony-iron meteorites have nearly equal amounts of silicon-based stone and iron-nickel metal.
The size of meteorites varies greatly. Most of them are relatively small. The largest meteorite ever found weighs about 66 short tons (60 metric tons). It fell at Hoba West, a farm near Grootfontein, Namibia. However, much larger bodies, such as asteroids and comets, can also strike the earth and become meteorites.
Meteorites reach the earth's surface because they are the right size to travel through the atmosphere. If they are too small, they will disintegrate in the atmosphere. If they are too large, they may explode before reaching the earth's surface. One such object exploded about 6 miles (10 kilometers) above the Tunguska River in Siberia in 1908, leaving a 20-mile (32-kilometer) area of felled and scorched trees.
Thousands of small meteorites have been found in Antarctica, providing a rich supply of specimens for scientists to study. Scientists study meteorites for clues to the types of material that formed the planets.
Impact craters and basins
When large bodies such as asteroids and comets strike a planet, they produce an impact crater or impact basin. Impact craters are bowl-shaped depressions that measure up to about 10 miles (25 kilometers) in diameter. They have shallow, flat floors and uplifted centers. Impact basins are larger, and inside their rims there are one or more rings on the planet's surface.
Scientists have found more than 120 impact craters and basins on the earth. One of the most famous, the Meteor Crater in Arizona, is about 4,180 feet (1,275 meters) across and 570 feet (175 meters) deep. It formed nearly 50,000 years ago when an iron meteorite weighing 330,000 short tons (300,000 metric tons) struck the earth. 

Most impact craters and basins larger than the Meteor Crater are heavily worn away or have been buried by rocks and dirt as the earth's surface changed. The largest known of these is the Chicxulub (CHEEK shoo loob) Basin centered in Mexico's Yucatan Peninsula. The diameter of the basin is about 190 miles (300 kilometers). Rock samples obtained by drilling into the basin indicate that an asteroid struck the earth there about 65 million years ago. This was about the time the last dinosaurs became extinct. The impact hurled much debris into the sky. Many scientists believe this debris caused climate changes that the dinosaurs could not survive. Contributor: Virgil L. Sharpton, Ph.D., President's Professor, Geophysical Institute, University of Alaska Fairbanks.

Senin, 24 Mei 2010

Mengukur Jarak dengan Bintang Cepheid

kita dapat menentukan jarak bintang dengan menghitung paralaksnya. Namun metode paralaks itu hanya dapat digunakan untuk bintang-bintang dekat saja karena teknologi yang kita miliki belum dapat menghitung paralaks dengan ketelitian tinggi. Jarak terjauh yang bisa diukur dengan metode paralaks hanya beberapa kiloparsek saja. Lalu bagaimana kita menghitung jarak bintang-bintang yang lebih jauh? Atau bahkan menghitung jarak galaksi-galaksi yang jauh? Salah satu caranya adalah dengan menggunakan hubungan periode-luminositas bintang variabel Cepheid.
Sejarah metode penghitungan jarak ini berawal dari sebuah penelitian tentang hasil pengamatan terhadap bintang variabel (bintang yang kecerlangannya berubah-ubah) yang ada di galaksi Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil (LMC dan SMC). Saat itu Henrietta Leavitt, astronom wanita asal Amerika Serikat, membuat katalog yang berisi 1777 bintang variabel dari penelitian tersebut. Dari katalog yang ia buat diketahui bahwa terdapat beberapa bintang yang menunjukkan hubungan antara kecerlangan dengan periode variabilitas. Bintang yang memiliki kecerlangan lebih besar ternyata memiliki periode varibilitas yang lebih lama dan begitu pula sebaliknya. Bentuk kurva cahaya bintang variabel jenis ini juga unik dan serupa, yang ditandai dengan naiknya kecerlangan bintang secara cepat dan kemudian turun secara perlahan.
Bentuk kurva cahaya seperti itu ternyata sama dengan kurva cahaya bintang delta Cephei yang diamati pada tahun 1784. Karena itulah bintang variabel jenis ini diberi nama bintang variabel Cepheid. Penamaan ini tidak berubah walaupun belakangan ditemukan juga kurva cahaya yang sama dari bintang Eta Aquilae yang diamati beberapa bulan sebelum pengamatan delta Cephei.
Hubungan sederhana antara periode dan luminositas bintang variabel Cepheid ini bisa digunakan dalam menentukan jarak karena astronom sudah mengetahui adanya hubungan antara luminositas dengan kecerlangan/magnitudo semu bintang yang bergantung pada jarak. Dari pengamatan bintang Cepheid kita bisa dapatkan periode variabilitas dan magnitudonya. Kemudian periode yang kita peroleh bisa digunakan untuk menghitung luminositas/magnitudo mutlak bintangnya dengan formula M = -2,81 log(P)-1,43. Karena luminositas/magnitudo mutlak dan magnitudo semu berhubungan erat dalam formula Pogson (modulus jarak), maka pada akhirnya kita bisa dapatkan nilai jarak untuk bintang tersebut.
Kunci penentu agar metode ini dapat digunakan adalah harus ada setidaknya satu bintang variabel Cepheid yang jaraknya bisa ditentukan dengan cara lain, misalnya dari metode paralaks trigonometri . Jarak bintang akan digunakan untuk menghitung luminositasnya dan selanjutnya bisa digunakan sebagai pembanding untuk semua bintang Cepheid. Oleh karena itu, astronom sampai sekarang masih terus berusaha agar proses kalibrasi ini dilakukan dengan ketelitian yang tinggi supaya metode penentuan jarak ini memberikan hasil dengan akurasi tinggi pula.

Menghitung jarak bintang variabel Cepheid menjadi sangat penting karena kita jadi bisa menentukan jarak gugus bintang atau galaksi yang jauh asalkan di situ ada bintang Cepheid yang masih bisa kita deteksi kurva cahayanya. Di sinilah keunggulan metode ini dibandingkan dengan paralaks, yang hanya bisa digunakan untuk bintang-bintang dekat saja.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada bintang Cepheid? Bintang ini mengalami perubahan luminositas karena radiusnya berubah membesar dan mengecil. Proses ini terjadi pada salah satu tahapan evolusi bintang, yaitu ketika sebuah bintang berada pada fase raksasa atau maharaksasa merah. Jadi dengan mempelajari bintang variabel Cepheid kita bisa menghitung jarak sekaligus mempelajari salah satu tahapan evolusi bintang

Galaksi BIMASAKTI :)

Terdapat banyak bintang, nebula, dan gugus bintang yang bisa diamati di langit setiap malamnya. Semua objek tersebut berada di dalam galaksi kita. Di beberapa bagian bintang nampak padat sehingga ketika langit cerah, bersih dari awan, dan kondisi sekitar yang gelap, kita bisa melihat pita berwarna putih yang memanjang dan melintasi beberapa rasi seperti Sagittarius (arah pusat Galaksi), Scorpius, Ophiucus, Aquila, Cassiopeia, Auriga, Crux, dan Centaurus. Sementara di bagian yang lain tampak celah-celah gelap yang menunjukkan adanya materi antar bintang yang tebal. Itulah (bidang) galaksi yang kita tinggali. Bentuknya yang seperti itu kemudian menginspirasi orang untuk menamakannya dengan sebutan Milky Way. Kata galaksi dan milky way itu sendiri diadaptasi dari bahasa Yunani “galaxias” dan Latin “via lactea” dengan kata dasar lactea yang berarti susu. Sedangkan menurut orang Indonesia, galaksi kita diberi nama Bimasakti. Menurut salah satu sumber dari Observatorium Bosscha, sejarah penamaan ini berasal ketika Presiden RI pertama, Soekarno, ditunjukkan citra galaksi oleh salah seorang astronom Indonesia. Ternyata, Soekarno melihat salah satu bagian gelap di foto tersebut menyerupai tokoh Bima Sakti. Namun tidak diketahui bagian gelap mana yang dimaksud.
Galaksi spiral tersusun atas 3 bagian utama, yaitu bagian bulge, halo, dan piringan. Ketiganya memiliki bentuk, ukuran, dan objek penyusun yang berbeda-beda. Bahkan, bagian bulge dan piringan menjadi penentu dalam klasifikasi galaksi yang dibuat oleh Hubble (diagram garpu tala).
Bagian bulge adalah daerah di galaksi yang kepadatan bintangnya paling tinggi. Bintang-bintang tua lebih banyak ditemukan daripada bintang muda, karena sangat sedikit materi pembentuk bintang yang terdapat di sini. Bulge ini berbentuk elipsoid seperti bola rugby. Bintang-bintang di dalamnya bergerak dengan kecepatan tinggi dan orbit yang acak, tidak sebidang dengan bidang galaksi. Dari perhitungan kecepatan orbit bintang-bintang di dalamnya, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat sebuah benda bermassa sangat besar yang berada di pusat Galaksi yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Benda tersebut diyakini adalah sebuah lubang hitam supermasif, yang diperkirakan terdapat di bagian pusat semua galaksi spiral. Termasuk juga di galaksi Andromeda, galaksi spiral terdekat dari Galaksi kita.
Komponen kedua adalah halo. Berbentuk bola, ukuran komponen ini sangat besar hingga jauh membentang melingkupi bulge dan piringan, bahkan mungkin lebih jauh daripada batas terluar piringan galaksi yang bisa kita amati. Objek yang menjadi penyusun halo dibagi menjadi dua kelompok, yaitu stellar halo dan dark halo. Yang dimaksud dengan stellar halo adalah bintang-bintang yang berada di bagian halo. Namun hanya sedikit ditemukan bintang individu di bagian ini. Yang lebih dominan adalah kelompok bintang-bintang tua yang jumlah bintang anggotanya mencapai jutaan buah, yang disebut dengan gugus bola (globular cluster).
Di bagian piringan terdapat bintang-bintang muda serta gas dan debu antar bintang yang terletak di lengan spiral. Banyak ditemukannya bintang muda dan gas antar bintang sangat berkaitan erat, karena gas adalah materi utama pembentuk bintang. Di beberapa lokasi bahkan ditemukan bintang-bintang muda yang masih diselimuti gas, yang menandakan bahwa bintang-bintang tersebut baru terbentuk. Sedangkan banyaknya debu di piringan membuat pengamat di Bumi kesulitan untuk melakukan pengamatan visual di sekitar bidang Galaksi, terutama ke arah pusat Galaksi (lihat gambar di atas). Karenanya, pengamatan di sekitar bidang Galaksi akan memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan di daerah panjang gelombang radio dan infra merah yang tidak terpengaruh oleh debu antar bintang (lihat gambar di bawah).
Seberapa besar Galaksi kita? Di bagian pusat Galaksi, bulge hanya memiliki diameter 6 kpc dan tebal 4 kpc (kpc = kiloparsek, 1 parsek = 3,26 tahun cahaya = 206265 SA = 3,086 x 10^13 km). Jarak dari pusat hingga ke bagian tepi Galaksi (jari-jari) adalah 15 kpc dengan ketebalan rata-rata sebesar 300 pc. Sedangkan Matahari berada pada jarak 8 kpc dari pusat. Di posisi itu, Matahari sedang bergerak mengelilingi pusat Galaksi dengan bentuk orbit yang hampir melingkar. Laju orbitnya adalah sekitar 250 km/detik sehingga matahari memerlukan waktu 220 juta tahun untuk berkeliling satu kali. Jika umur matahari adalah 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita sudah mengorbit pusat Galaksi sebanyak 20 kali.
Galaksi kita sebenarnya berada pada sebuah kelompok galaksi yang disebut dengan Grup Lokal, yang ukurannya mencapai 1 MPc dan beranggotakan lebih dari 30 galaksi. Galaksi spiral yang ada di kelompok ini hanya tiga, yaitu Bimasakti, Andromeda, dan Triangulum. Sisanya adalah galaksi yang lebih kecil dengan bentuk elips atau tak beraturan. Grup Lokal ini termasuk kelompok galaksi yang dinamis. Maksudnya adalah bahwa galaksi-galaksi di kelompok ini mengalami interaksi gravitasi, termasuk Galaksi kita dengan galaksi Andromeda. Interaksi tersebut diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya tabrakan antara Galaksi kita dengan Andromeda dan kemudian membentuk galaksi elips. Namun jangan terlalu khawatir karena peristiwa tersebut tidak akan terjadi hingga 2 milyar tahun lagi.

Senin, 17 Mei 2010

The Milkyway

The Milky Way Galaxy
A spiral galaxy, type Sbc, centered in Sagittarius

The Milky Way is the galaxy which is the home of our Solar System together with at least 200 billion other stars (more recent estimates have given numbers around 400 billion) and their planets, and thousands of clusters and nebulae, including at least almost all objects of Messier's catalog which are not galaxies on their own (one might consider two globular clusters as possible exceptions, as probably they are just being, or have recently been, incorporated or imported into our Galaxy from dwarf galaxies which are currently in close encounters with the Milky Way: M54 from SagDEG, and possibly M79 from the Canis Major Dwarf). See our Messier Objects in the Milky Way page, where details are given for each object to which part of our Galaxy it is related. All the objects in the Milky Way Galaxy orbit their common center of mass, called the Galactic Center (see below).

As a galaxy, the Milky Way is actually a giant, as its mass is probably between 750 billion and one trillion solar masses, and its diameter is about 100,000 light years. Radio astronomial investigations of the distribution of hydrogen clouds have revealed that the Milky Way is a spiral galaxy of Hubble type Sb or Sc. Therefore, our galaxy has both a pronounced disk component exhibiting a spiral structure, and a prominent nuclear reagion which is part of a notable bulge/halo component. Decade-long observations have brought up more and more evidence that the Milky Way may also have a bar structure (so that it would be type SB), so that it may look like M61 or M83, and is perhaps best classified as SABbc. Recent investigations have brought up support for the assumption that the Milky Way may even have a pronounced central bar like barred spiral galaxies M58, M91, M95, or M109, and thus be of Hubble type SBb or SBc.
# More on the structure of the Milky Way

The Milky Way Galaxy belongs to the Local Group, a smaller group of 3 large and over 30 small galaxies, and is the second largest (after the Andromeda Galaxy M31) but perhaps the most massive member of this group. M31, at about 2.9 million light years, is the nearest large galaxy, but a number of faint galaxies are much closer: Many of the dwarf Local Group members are satellites or companions of the Milky Way. The two closest neighbors, both already mentioned, have only recently been discovered: The nearest of all, discovered in 2003, is an already almost disrupted dwarf galaxy, the Canis Major Dwarf, the nucleus of which is about 25,000 light-years away from us and about 45,000 light-years from the Galactic Center. Second comes SagDEG at about 88,000 light years from us and some 50,000 light years from the Galactic Center. These two dwarfs are currently in close encounters with our Galaxy and in sections of their orbits situated well within the volume ocupied by our Milky Way. They are followed in distance by the more conspicuous Large and Small Magellanic Cloud, at 179,000 and 210,000 light years, respectively.

The spiral arms of our Milky Way contain interstellar matter, diffuse nebulae, and young stars and open star clusters emerging from this matter. On the other hand, the bulge component consists of old stars and contains the globular star clusters; our galaxy has probably about 200 globulars, of which we know about 150. These globular clusters are strongly concentrated toward the Galactic Center: From their apparent distribution in the sky, Harlow Shapley has concluded that this center of the Milky Way lies at a considerable distance (which he overestimated by factors) in the direction of Sagittarius and not rather close to us, as had been thought previously.

Our solar system is thus situated within the outer regions of this galaxy, well within the disk and only about 20 light years "above" the equatorial symmetry plane (to the direction of the Galactic North Pole, see below), but about 28,000 light years from the Galactic Center. Therefore, the Milky Way shows up as luminous band spanning all around the sky along this symmetry plane, which is also called the "Galactic Equator". Its center lies in the direction of the constellation Sagittarius, but very close to the border of both neighbor constellations Scorpius and Ophiuchus. The distance of 28,000 light years has recently (1997) been confirmed by the data of ESA's astrometric satellite Hipparcos. Other investigations published consequently have disputed this value and propose a smaller value of some 25,000 light years, based on stellar dynamics; a recent investigation (McNamara et.al 2000, based on RR Lyrae variables) yields roughly 26,000 light years. These data, if of significance, wouldn't immediately effect values for distances of particular objects in the Milky Way or beyond.

The solar system is situated within a smaller spiral arm, called the Local or Orion Arm, which is merely connection between the inner and outer next more massive arms, the Sagittarius Arm and the Perseus Arm; see our Milky Way Spiral Structure page.

Similar to other galaxies, there occur supernovae in the Milky Way at irregular intervals of time. If they are not too heavily obscurred by interstellar matter, they can be, and have been seen as spectacular events from Earth. Unfortunately, none has yet appeared since the invention of the telescope (the last well observed supernova was studied by Johannes Kepler in 1604).

Milky Way pictures are wide-field exposures. Besides being attractive and often colorful, they are often suited to view the Milky Way objects (including nebulae and star clusters) in their celestial surroundings of field stars. Some fields include lots of Messier objects and thus included here:

Scutum, and map of the Milky Way Central Region, by Bill Keel of the University of Alabama
* Milky Way in Sagittarius, including portions of Scorpius and Ophiuchus
* Milky Way around M17, M18, and M24

Our image was obtained by David Malin of the Anglo-Australian Observatory, and shows the many Messier objects around the direction of the Galactic Center. It is copyrighted and may be used for private purpose only. For any other kind of use, including internet mirroring and storing on CD-ROM, please contact the Photo Permissions Department (photo at aaoepp.aao.gov.au) of the Anglo Australian Observatory.
# More information on this image by David Malin
# Old style AAT image

In order to obtain a picture of the whole Milky Way as it appears from Earth, one must either compose a mosaic of many photographs (optionally computer-processed), or create a drawing; fine examples may be accessed below:

* A good Milky Way photo mosaic
* Knut Lundmark's drawing of the Milky Way

In the infrared light, the structure of the Milky Way can be better investigated, as the obscurring dust clouds are of better transparency for long wavelength IR than for the visible light. The Cobe satellite has provided an infrared image of the Milky Way's central region.

The central region of the Milky Way, as those of many other galaxies, is more densely crouded with stars than the outer region, and contains a massive central object, Sagittarius A*.

Below we give some data for the Galactic Center (this and all following positions for epoch 2000.0):

Right ascension 17 : 45.6 (h : m)
Declination -28 : 56 (deg : m)
Distance 28 (kly)

The Galactic North Pole is at

Right ascension 12 : 51.4 (h : m)
Declination +27 : 07 (deg : m)

The coordinate data given here were extracted from the online coordinate calculator at Nasa/IPAC's Extragalactical Database (NED) (also available by telnet).

Our Sun, together with the whole Solar System, is orbiting the Galactic Center at the distance given, on a nearly circular orbit. We are moving at about 250 km/sec, and need about 220 million years to complete one orbit (so the Solar System has orbited the Galactic Center about 20 to 21 times since its formation about 4.6 billion years ago).

In addition to the overall Galactic Rotation, the solar system is moving between the neighboring stars (peculiar motion) at a velocity of about 20 km/s, to a direction called "Solar Apex," at the approximate position RA=18:01, Dec=+26 (2000.0); this motion has been discovered by William Herschel in 1783.

Considering the sense of rotation, the Galaxy, at the Sun's position, is rotating toward the direction of Right Ascension 21:12.0, Declination +48:19. This shows that it rotates "backward" in the Galactic coordinate system, i.e. the Galactic North Pole is actually a physical South Pole with respect to galactic rotation (defined by the direction of the angular momentum vector).

Sabtu, 13 Juni 2009

Asal Usul Rasi Bintang Kita




Aries


Asalnya dari domba berbulu emas yg dikirim oleh Nephele untuk nyalametin putra-putrinya, Phrixus dan Helle yg mao dihukum mati sama bokapnya, King Athamas, gara2 hasutan nyokap tiri mereka, Ino. Domba ntu ngebawa Phrixus dan Helle terbang ninggalin Boeotia menuju ke Colchis di Caucasus. Tapiii, dalam perjalanan Helle jatuh ke laut dan tenggelam. Sesampainya di Colchis, Phrixus diterima oleh King Aetes dan dinikahin sama putri sulungnya. Sebagai tanda terima kasih kepada para dewa/i yg telah melindunginya selama perjalanan, Phrixus mengorbankan domba ntu ‘n ngasih bulu emasnya buat mertuanya.
Princess Europa terpikat sama banteng ntu truz duduk di atas punggungnya. Tak dinyana banteng ntu malah melarikan Princess Europa nyeberangin lautan sampe ke Crete. Sesampinya di Crete, Jupiter menampakkan wujud aslinya sebelum menikahi Princess Europa dalam wujud rajawali emas. 3 putra dilahirkan dari perkawinan mereka: Minos, Rhadamanthys, & Sarpedon.


Taurus


Banteng jelmaan Jupiter waktu nyulik Princess Europa, putri King Agenor of Sidon dan Queen Telephassa. Princess Europa, beberapa hari sebelum diculik, mimpi tentang 2 org cewe, East & West, yang rebut gara2 ngerebutin dirinya, yg diakhiri dgn kemenangan West, itu berarti doski harus ninggalin tanah kelahirannya untuk pergi ke barat. Dia kagak mao. Akhirnya Jupiter sendiri menjelma menjadi banteng jinak di antara ternak peliharaan bokap Princess Europa. Princess Europa terpikat sama banteng ntu truz duduk di atas punggungnya. Tak dinyana banteng ntu malah melarikan Princess Europa nyeberangin lautan sampe ke Crete. Sesampinya di Crete, Jupiter menampakkan wujud aslinya sebelum menikahi Princess Europa dalam wujud rajawali emas. 3 putra dilahirkan dari perkawinan mereka: Minos, Rhadamanthys, & Sarpedon.


Gemini


Jupiter yg terpikat sama kejelitaan Queen Leda of Sparta ngedatengin dia dalam wujud angsa putih, padahal Queen Leda of Sparta udah bersuamikan King Tyndareus.
Dari hasil hubungan mereka (selingkuh ini mah) Queen Leda of Sparta melahirkan 2 butir telur. Dari 2 butir telur ntu menetaslah 4 bayi: Clytaemnestra, Castor, Pollux, & Helen. Clytaemnestra & Castor adalah putri & putra dari King Tyndareus, karena itu mereka mortal, sedangkan Pollux & Helen adalah benih dari Jupiter karena itu mereka immortal (widdihh…). Setelah dewasa Castor & Pollux menjadi 2 sodara yg saling menyayangi dan tak terpisahkan. King Leucippus menjanjikan ke-2 putrinya bwt jadi istri mereka, tapi kemudian malah menikahkan mereka kepada putra-putra King Messenia: Idas & Lynceus. Akibatnya terjadi pertempuran di antara mereka.
Dalam pertempuran itu Castor tewas dibunuh Idas yg kemudian dibinasakan oleh petir Jupiter, sementara Pollux menewaskan Lynceus. Pollux begitu berduka ditinggal oleh Castor sehingga memohon kepada Jupiter mencabut immortality-nya biar bisa nyusul Castor ke Hades. Jupiter yg terharu ngeliat cinta Pollux pada sodaranya kemudian ngangkat mereka berdua menjadi rasi bintang Gemini di angkasa. (kisah yang sedih…)


Cancer


Kepiting raksasa yg dikirim oleh Juno untuk membantu Hydra membunuh Hercules yg sedang melaksanakan tugas ke-2nya dari King Eurystheus of Mycaena, yaitu memusnahkan Hydra, monster beracun berkepala 9 dari rawa-rawa Lerna.
Ketika Hercules sedang bersusah payah banting tulang jungkir balik memerangi Hydra tiba-tiba dia ngerasain ada yang tajem2 nyapit kakinya, ternyata kepiting raksasa. Karena gusar badan kepiting ntu dia hancurin. Juno ngerasa kecewa gara2 tujuannya ngebunuh Hercules gagal tapi tetep ngehargain kesetiaan kepiting ntu. Maka dari ntu, dia lalu ngangkat tubuh tuh kepiting ke angkasa truz ngejadiin dia rasi bintang Cancer.


Leo


Juno dalem kebenciannya sama si Hercules, ngebuat dia jadi gila, sampe2 ngebunuh ke-3 putranya dari Princess Megara of Thebes. Buat nebus kesalahannya (slh apa cb Hercules???), Hercules harus ngabdi sama King Eurystheus of Mycaenea ‘n ‘menunaikan’ 12 tugas berat. Tugas pertama yg harus diselesain adalah ngebunuh the Nemean Lion yg udah menerror penduduk Nemea selama bertahun-tahun.
The Nemean Lion punya kulit yg kebal senjata gt, jadi si Hercules kesulitan ngehadapin dia, tapi waktu akhirnya si singa capek, Hercules berhasil nyekek lehernya sampai mati (boonk banget nih kedengerannya…). Abis ntu, Hercules ngulitin tuh singa pake cakar si singa ndiri, trus make tuh kulit buat baju pelindung yg ngebuat Hercules sulit dilukain pake senjata apapun.
Virgo & Libra
Jelmaan Astrea, dewi kesucian, putri Jupiter sama Justitia (gila nih Jupiter, kawin mulu…), dewi keadilan. Konon waktu dunia belum ngenal dosa, hubungan manusia sama dewa/i harmonis bgt. Mereka idup di antara manusia di bumi. Sayang sekali hubungan ini terus jd rusak gara2 dosa, sehingga dewa/i ga lagi berkenan tinggal di antara manusia dan mereka ninggalin bumi untuk tinggal di langit. Astrealah yg terakhir ninggalin bumi buat tinggal di langit di antara bintang-bintang. Dia kemudian menjadi rasi bintang Virgo, sang Perawan, karena Astrea udah bersumpah gt sama nyokapnya buat tetep perawan, sesuai keinginan nyokapnya ntu, sebelum akhirnya dipersunting sama Jupiter (hah? Jupiter bknnya bokapnya??). Ada juga yg bilang kalo rasi bintang Virgo ntu adalah jelmaan dari Justitia sendiri dan bukan Astrea, karena itu dalem urutan berikutnya ada rasi bintang Libra yg adalah penjelmaan dari timbangan yg dibawa oleh Justitia sebagai dewi keadilan


Scorpio


Orion adalah seorg pemburu bangsa Boeotia yg super ganteng dan perkasa gt. Waktu menjalin cinta sama Aurora, dewi fajar, Orion pernah ‘kongthai’ gt, bakal musnahin semua hewan buas di muka bumi dan mempersembahkannya buat Aurora.
Apollo yg mendengar hal ntu, kemudian ngirim seekor kalajengking raksasa buat ngebunuh Orion. Aurora mohon2 bantuan Diana, dewi perburuan, buat nyelametin Orion. Diana yg mang sayang sama Orion, berhubung sesama pemburu, bersedia nyelamatin Orion. Waktu Orion lagi dikejer-kejer sama kalajengking raksasa ntu, Diana bersiap-siap membidikkan panahnya buat ngebunuh kalajengking ntu. Ehhh, tiba-tiba si Apollo muncul trus, ngaburin pandangan Diana sehingga anak panahnya meleset, dan justru malah kena si Orion yg tewas seketika. Diana yang jadi berduka gara2 ga bisa nepatin janjinya ke si Aurora, kemudian menempatkan Orion di angkasa sebagai rasi bintang Orion. Apollo juga ga mao kalah. Dia nempatin kalajengking ntu di angkasa sebagai rasi bintang Scorpio dalem posisi lagi memburu Orion.


Sagittarius


Cheiron adalah centaur, makhluk yg tubuh bagian atasnya berupa manusia, tapi tubuh bagian bawahnya berupa kuda, putra Saturn (akhirnya bkn Jupiter si Playboy lage…) dari Phylira, Sang Oceanid. Gak seperti centaur yg pada umumnya bersifat liar dan buas, Cheiron punya kebijaksanaan dan kemampuan yg tinggi dalem berbagai bidang sehingga banyak heroes yg memperoleh keahlian mereka dari didikan Cheiron, di antaranya adalah: Jason, Hercules, dan Achilles. Suatu hari, Hercules ngunjungin Cheiron di guanya. Karena suatu misunderstanding gitu, akhirnya terjadilah pertempuran antara Hercules dgn para centaurs. Walopun Cheiron sendiri ga terlibat dalem pertempuran ntu, namun salah 1 anak panah beracunnya Hercules nyasar ke tubuhnya dan nimbulin luka yg ga tersembuhkan. Ce-laka-nyaaa, Cheiron sendiri immortal karena bokapnya kan immortal jg, sehingga penderitaannya gak pernah bakal berakhir. Akhirnya dia memohon sama Jupiter (kayaknya tokoh utama kita hari ini Mr. Jupiter yah…?) biar nyabut immortality-nya. Jupiter gak nyabut immortality-nya melaenkan malah ngejadiin dia rasi bintang Sagittarius.
Pada saat kehamilannya yg ke-6 Cybele yang berduka gara2 ulah Saturn sama anak-anak mereka sendiri kemudian pergi ke lereng Gunung Dicte di Crete buat ngelahirin bayinya biar selamat dari inceran suaminya. Sekembalinya ke istana Saturn, Cybele berpura-pura mengerang sakit kayak mau melahirkan gt. Setelah persalinannya selesai dia nyerahin bungkusan bayinya ke si Saturn buat ditelan. Tanpa meriksa2 lagi, Saturn nelen bungkusan yg diberikan oleh istrinya ntu, yg ternyata berisi sebongkah batu.
Putra keenam Saturn dan Cybele yg selamat dari kebuasan bokapnya ntu, diasuh sama para peri di hutan lereng Gunung Dicte, terutama Melia & Adrastea. Mereka menamai bayi itu Jupiter (lagi). Para makhluk menyayangi dewa kecil ntu, seolah mereka tau bahwa kelak Jupiterlah yg bakal ngebebasin mereka dari cengkeraman sang tiran, Saturn. Seekor kambing betina, Amalthea, tiap hari ngasih air susunya buat si Jupiter dgn kasih sayang seorg ibu (hikZ..), kelak setelah Jupiter berkuasa, Amalthea ditempatin di angkasa, di antara para bintang menjadi rasi bintang Capricorn. Ada juga versi yg bilang kalo rasi bintang Capricorn ntu, penjelmaan dari Aegipan, putra Jupiter dari Aix, seekor kambing betina (sm kambing dia sekarang, ckckckc, jelmaan kale yah…). Waktu monster Typhoon nyerang Olympus dan motong2 urat Jupiter, para dewa/i melarikan diri dan menjelma jadi hewan-hewan buat nyelamatin diri. Aegipan sendiri walopun udah berwujud sebagai hewan, menjelma lage jadi ikan, oleh karena itu rasi bintang Capricorn dilukiskan sebagai kambing berekor ikan.
Kemudian Mercury sama Aegipanlah yg berhasil mencuri urat-urat Jupiter dari Typhoon dan ngembaliin urat2 ntu ke bokapnya. Mereka yg kemudian berhasil ngalahin Typhoon. Sebagai tanda terima kasih, Jupiter mengabadikan putranya sebagai rasi bintang Capricorn.


Aquarius


Penjelmaan Catamite alias Ganymede, putra King Tros dari Troy dgn Callirhoe. Konon, Catamite memiliki perawakan dan wajah yg sangat rupawan sehingga Jupiter jatuh hati sama dia, dan ngutus rajawali emasnya, Aquila untuk nyulik Catamite dan ngebawa dia ke Olympus saat menggembalakan ternak bokapnya di lereng Gunung Ida, dan dijadiin pembawa cawan pribadi sekaligus kekasih Jupiter. Sebagai gantinya, Jupiter menganugerahkan kuda-kuda perkasa ‘n pohon batu mulia kepada King Tros. Waktu Juno memperlihatkan rasa cemburu dan ketidaksukaannya sama si Catamite, Jupiter justru ngejadiin dia sebagai rasi bintang Aquarius. Jupiter juga ngejadiin Aquila rasi bintang dan nempatin dia di deket rasi bintang Aquarius buat ngejaga Catamite dan buat mengenang peristiwa penculikannya. Konon bangsa Mesir kunolah yg ngasih nama buat rasi bintang ini, sebab kemunculannya di langit nandain tibanya saat Sungai Nile meluap membanjiri pesisirnya san ngebawa lumpur hitam yg menyuburkan tanah Mesir.



Pisces


Penjelmaan Venus dan putranya, Cupid, saat monster Typhoon menyerang Olympus dan memotong urat-urat Jupiter. Mereka berdua menjelma jadi sepasang ikan. Biar mereka sampe terpisah, mereka ngiket ekor mereka berdua jadi 1 waktu berenang di lautan bintang di Via Galactea alias Galaksi Bima Sakti.

Asal Usul Tata Surya

Banyak hipotesis tentang asal usul tata surya telah dikemukakan para ahli, diantaranya :
Hipotesis Nebula
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan

perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.
Hipotesis Planetisimal
Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.

Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. serpihan itu akan terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya
Sejarah penemuan
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata manusia "lebih tajam" dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati melalui mata telanjang.
Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam, ia bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa matahari adalah pusat alam semesta, bukan Bumi, yang digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543) sebelumnya. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus.
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter.
Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya
Pada 1781, William Hechell (1738-1782) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930.
Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto ditemukan, sebelumnya sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya karena ukurannya tidak berbeda jauh dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).
Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.
Daftar jarak planet
Daftar planet dan jarak rata-rata planet dengan matahari dalam tata surya adalah seperti berikut:
57,9 juta kilometer ke Merkurius

108,2 juta kilometer ke Venus

149,6 juta kilometer ke Bumi

227,9 juta kilometer ke Mars

778,3 juta kilometer ke Jupiter

1.427,0 juta kilometer ke Saturnus

2.871,0 juta kilometer ke Uranus

4.497,0 juta kilometer ke Neptunus

Terdapat juga lingkaran asteroid yang kebanyakan mengelilingi matahari di antara orbit Mars dan Jupiter.
Karena rotasinya terhadap sumbu masing-masing, garis khatulistiwa menjadi lingkar terpanjang yang terdapat di setiap planet dan bintang.


Tata surya (bahasa Inggris: solar system) terdiri dari sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang yang mengelilinginya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, meteor, asteroid, komet, planet-planet kerdil/katai, dan satelit-satelit alami.


Tata surya dipercaya terbentuk semenjak 4,6 milyar tahun yang lalu dan merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilinginya.

Tata surya terletak di tepi galaksi Bima Sakti dengan jarak sekitar 2,6 x 1017 km dari pusat galaksi, atau sekitar 25.000 hingga 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Tata surya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik, dan dibutuhkan waktu 225–250 juta tahun untuk untuk sekali mengelilingi pusat galaksi. Dengan umur tata surya yang sekitar 4,6 milyar tahun, berarti tata surya kita telah mengelilingi pusat galaksi sebanyak 20–25 kali dari semenjak terbentuk.

Tata surya dikekalkan oleh pengaruh gaya gravitasi matahari dan sistem yang setara tata surya, yang mempunyai garis pusat setahun kecepatan cahaya, ditandai adanya taburan komet yang disebut awan Oort. Selain itu juga terdapat awan Oort berbentuk piring di bagian dalam tata surya yang dikenali sebagai awan Oort dalam.

Disebabkan oleh orbit planet yang membujur, jarak dan kedudukan planet berbanding kedudukan matahari berubah mengikut kedudukan planet di orbit.
Hipotesis Nebula

Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula Kant-Laplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk.
Hipotesis Planetisimal

Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
Hipotesis Pasang Surut Bintang

Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.
Hipotesis Kondensasi

Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
Hipotesis Bintang Kembar

Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil.